Sebuah mobil Honda Jazz berwarna merah berbelok
memasuki pelataran rumah besar dan mewah berlantai dua. Seorang laki-laki setengah
baya berlari tergopoh-gopoh menutup kembali pintu gerbang kemudian berbalik membuka
pintu garasi. Mobil tadi segera menghilang ke dalam garasi. Sebagai gantinya
seorang laki-laki gagah usia tiga puluhan keluar sambil menenteng tas kerja. Ia
disambut seorang pembantu rumah tangga yang membungkuk hormat lalu membawakan
tasnya masuk.
“Alika di mana Minah?”
“Nyonya belum pulang Tuan.” Jawab
pembantu itu seperlunya, masih dengan badan membungkuk dan kepala menunduk.
Laki-laki tadi menghela napas kemudian
berjalan menuju kamar utama. Kamar itu terletak di lantai dua dengan balkon
menghadap jalan setapak yang berkelok-kelok dengan pohon-pohon cemara berjajar
rapi di kiri kanannya. Dilihat dari balkon jalan setapak itu lebih mirip ular
hijau raksasa yang tak berujung. Sebuah kursi antik dan meja bulat teronggok
kesepian di samping kiri pintu. Di sanalah istrinya yang agung biasa membunuh
waktu dengan membaca buku saat tidak ada kegiatan di luar.
Laki-laki itu merebahkan badannya di
ranjang besar ukuran King Bed yang walaupun terlihat nyaman dan hangat namun
terasa sangat dingin baginya. Empat tahun sudah benda itu menjadi satu-satunya
pengikat antara ia dan seorang gadis bernama Alika. Menegaskan bahwa mereka
benar-benar suami istri. Setidaknya begitulah secara hukum.
Ia pernah sangat mendambakan istrinya
yang jelita. Pemilik tubuh semampai, rambut ikal, pinggang ramping, kaki
belalang dan lutut seputih mutiara. Semua rekan bisnisnya memandang dengan
tatapan penuh rasa iri padanya. Tapi orang-orang itu hanya melihat dari luar
saja tanpa pernah tahu bahwa di dalam sebenarnya pernikahan mereka telah
berakhir bahkan sejak malam pertama.
“Aku sangat lelah. Bisakah kau ijinkan
aku istirahat?” Tanya istrinya dalam nada santun bak seorang pelayan dengan
senyum manis tersungging di wajahnya yang secantik ratu.
Diakuinya meski ia menikahi Alika bukan
karena cinta namun penolakan secara halus itu tetap saja menyakitkan hatinya. Sebagai
suami ia merasa sangat terhina.
Empat tahun lalu Ayah Alika yang sudah
rapuh dalam usianya yang semakin senja membutuhkan seseorang untuk menggantikannya
menjalankan bisnis hotel yang dirintisnya sejak usia dua puluhan. Lelaki tua
itu berjanji mewariskan hotel padanya dengan syarat ia harus menikahi putri
semata wayangnya. Mendapat warisan hotel bintang lima dengan bonus seorang
wanita jelita yang digilai setiap pemuda, laki-laki normal mana yang sanggup menampik???
Alika yang penurut itu, dengan patuh
bersedia menjadi boneka bisnis ayahnya dengan menjalani perkawinan semu
bertabur kemewahan. Ia menjalankan perannya dengan baik, menjadi nyonya rumah,
menghadiri pesta para pebisnis kelas atas dan aktif di berbagai yayasan sosial.
Ia menjadi seorang istri yang hebat kecuali di ranjang. Dalam kamar megah
mereka, ia adalah seorang istri yang dingin yang tak pernah mengijinkan
suaminya menyentuh tubuh moleknya. Alika selalu membiarkan dirinya tersiksa
dalam tuntutan hasrat lelakinya yang tak pernah terpuaskan.
***
“Aku lelah seharian menemani anak-anak
panti asuhan belajar dan bermain. Aku ingin tidur cepat malam ini.” Elak Alika
malam itu saat suaminya memeluknya dari belakang dengan penuh hasrat.
“Tapi aku menginginkanmu sekarang! Bisakah
kau menahan kantukmu hanya untuk malam ini demi aku yang telah menahan hasratku
selama empat tahun?” Pertanyaan itu pelan, lembut namun sangat menuntut.
Alika memalingkan muka, menghindari
tatapan suaminya yang membuatnya sangat terpojok.
“Ferdinan, aku minta maaf!”
“Kenapa? Setidaknya katakan padaku apa
alasannya! Karena aku bukan keturunan konglomerat terhormat seperti dirimu
sehingga aku dianggap tidak sepadan. Itukah alasannya?” Ferdinan mulai
terpancing emosi.
“Kau tahu aku tak pernah menganggapmu
seperti itu.”
“Benarkah begitu? Kau yakin bukan itu
alasannya???” Kali ini suara Ferdinan berubah menjadi sinis.
“Ferdinan.....”
“Cukup! Alika, aku benar-benar tidak
bisa bersabar lebih lama lagi. Jika kelak aku melakukan sesuatu di luar
kendaliku, itu semua adalah karenamu! Kau yang memulai semua ini. Jadi jangan
coba-coba menyalahkanku!”
Ferdinan melangkah keluar dengan mata
berkilat-kilat karena marah, diikuti suara pintu yang dibanting dengan keras.
Paginya pasangan suami istri itu bertemu
di meja makan tanpa saling menyapa. Ferdinan makan dengan cepat-cepat sementara
Alika kelihatan tidak berselera. Perempuan itu mengenakan mantel tebal dengan
sebuah syal melingkar di lehernya. Wajahnya tampak pucat, berkali-kali dia
membersit hidungnya dengan sapu tangan. Ia kelihatan kurang sehat namun tetap
tidak mengatakan apa pun. Ferdinan juga enggan bertanya lebih dulu. Keduanya
membisu sampai acara makan selesai.
Ferdinan berjalan keluar diikuti Minah
yang membawakan tasnya sampai halaman.
“Minah....!” Panggil Ferdinan ragu-ragu.
“Ya, Tuan?”
“Nanti tolong buatkan bubur sum-sum dan
wedhang jahe hangat! Kelihatannya nyonya kena flu lagi.” Ferdinan berusaha
keras agar suaranya tidak terdengar khawatir.
Minah melongo karena terkejut tapi
buru-buru mengangguk sambil tersenyum.
***
Hari itu Ferdinan tidak bisa bekerja
dengan tenang karena pikirannya terganggu. Dia tengah membolak-balik laporan dengan
gusar ketika Wanda sekretarisnya masuk membawakan secangkir cokelat.
“Kata orang minum cokelat bisa membuat
kita menjadi rileks.” Kata Wanda dengan nada dibuat selembut mungkin sambil
tersenyum menggoda.
Ferdinan meminum cokelatnya tanpa
menanggapi. Diamatinya wanita yang berdiri di sampingnya itu. Parasnya memang tidak
terlalu cantik tapi ia memiliki kulit putih yang sangat halus. Posturnya yang
tinggi ditunjang dengan bodynya yang padat berisi sebenarnya wanita itu bisa
dibilang menarik. Ia juga tahu Wanda tak pernah menyerah untuk mendapatkannya. Tapi
tidak ada wanita manapun di dunia ini yang mampu membuatnya menjadi pemuja
kecuali istrinya. Alika yang jelita. Alika yang anggun. Alika yang dingin.
Alika yang selalu menolaknya dan Alika yang selalu membuatnya tersiksa. Ia
frustasi setiap kali ingat semua itu.
“Ada apa?” Tanya Wanda yang mulai merasa
jengah terus-terusan dipelototi.
“Tidak ada.” Jawab Ferdinan datar.
Wanda merengut kemudian berjalan hendak
pergi tapi Ferdinan menahannya.
“Sore ini kau ada acara?” Tanya Ferdinan
yang langsung disambut Wanda dengan senyuman.
***
Minah yang sedang menyapu terperanjat ketika
tuannya pulang membawa seorang wanita. Sementara itu di ujung tangga Alika
memandang mereka tanpa ekspresi kemudian berbalik masuk kamar. Ferdinan yakin
sekilas dia melihat sentakan di wajah istrinya dan dia puas dengan itu.
Ferdinan mengajak Wanda ke taman
samping. Lokasi yang akan terlihat jelas dari tempat yang ia pastikan istrinya
ada di sana, yaitu balkon kamarnya. Dan benar saja, seperti biasa istrinya sedang
bertahta di atas singgasananya menunggu matahari tenggelam.
Wanita jalang itu menggelayut manja dalam
pelukan Ferdinan yang sesekali mencium pipinya dengan gemas. Alika menyaksikan
itu dari atas. Ia membuang muka lalu memilih menghindar dengan kembali ke kamar.
Sepuluh menit kemudian dia menuruni tangga dengan langkah terhuyung-huyung. Menuju
garasi, mengambil mobil lalu pergi. Ia tidak kembali hingga pagi tiba.
Ferdinan yang mula-mula bersikap tenang
mendadak ikut gelisah. Sepertinya ia terpengaruh oleh Minah yang panik setengah
mati. Minah dulunya adalah pembantu di rumah ayahnya Alika. Dia yang mengasuh
Alika sejak kecil dan sudah menganggapnya seperti putri sendiri, tak heran dia
sangat khawatir.
“Jangan-jangan nyonya diculik lagi!” Cetus
Minah disela-sela kepanikannya.
“Apa katamu Minah? Diculik?”
“Iya Tuan. Dulu waktu berumur delapan
belas tahun Nyonya Alika pernah diculik.”
Ferdinan melongo mendengar ucapan Minah.
Alika pernah diculik???
“Jangan ngawur kamu Minah! Alika tidak
mungkin diculik. Pasti ia hanya sedang pergi ke suatu tempat.” Ferdinan masih berusaha
berpikir positif. Tiba-tiba saja spekulasi lain muncul dalam benaknya.
Mungkinkah Alika meninggalkan rumah karena Wanda?
Hampir saja Ferdinan menelepon polisi
ketika tahu-tahu Alika muncul dengan muka sepucat mayat di hari ketiga. Dia
berjalan melewati Ferdinan tanpa menjelaskan apapun dan langsung masuk kamar.
Ferdinan mengikutinya dari belakang.
“Kau kemana tiga hari ini?” Tanya
Ferdinan membuka percakapan.
“Oh, aku mengunjungi ayahku.” Jawab
Alika singkat.
Ferdinan terdiam, tidak tahu harus
bicara mulai dari mana.
“Mengenai kejadian kemarin. Aku minta
maaf, aku hanya,,,,,,” Suara Ferdinan menggantung.
“Nikahilah dia!” Suara Alika pelan,
tenang, tanpa emosi.
Ferdinan ternganga, tidak menyangka akan
mendengar itu dari mulut istrinya.
“Berhentilah menungguku dan nikahilah
dia!”
***
Ferdinan tahu ia tak pernah menginginkan
Wanda. Ia melakukan itu hanya untuk memancing Alika. Wanita yang selalu
menolaknya itu, Ferdinan ingin memastikan perasaannya. Tapi reaksi Alika benar-benar
di luar perkiraan.
Suara dering telepon membuyarkan lamunan
Ferdinan. Ia menatap layar ponselnya sambil mengerutkan kening. Dokter Tony???
“Halo. Ada apa Dokter menelepon saya?”
“Saya hanya ingin menanyakan keadaan
Nyonya Alika. Apakah dia baik-baik saja?” Suara di seberang terdengar khawatir.
“Alika baik-baik saja.” Ferdinan
menjawab sekenanya.
“Saya sudah menyarankan untuk menjalani
perawatan di Rumah Sakit tapi Nyonya Alika selalu menolak. Kemarin dia memaksa
pulang karena dia bilang sudah merasa baikan. Tapi saya khawatir karena
sewaktu-waktu keadaannya bisa saja memburuk.”
“Memangnya Alika sakit apa Dokter???”
Ferdinan semakin mengerutkan keningnya,
tidak mengerti maksud dokter yang sudah sepuluh tahun menjadi dokter pribadi di
keluarga Alika itu.
“Jadi Pak Ferdinan selama ini tidak tahu
kalau istri anda mengidap AIDS?”
Ferdinan mematung di kursinya. Suara
Dokter Tony terngiang-ngiang di telinganya. Memaksa otaknya kembali mengingat
memori-memori yang selama ini ia abaikan. Alika yang selalu terserang flu hanya
karena lupa memakai mantel. Alika yang sering terbangun dengan wajah pucat.
Alika yang selalu menolak berhubungan intim dengannya. Inikah penjelasannya????
Mendadak Ferdinan ingat kata-kata Minah.
“Dulu waktu berumur delapan belas tahun
Nyonya Alika pernah diculik”.
Tangan Ferdinan menari di atas keyboard,
mengetik sebuah clue dalam kolom Google
Search. Mencari berita penculikan tujuh tahun silam.
“Putri
tunggal pengusaha kelas atas Willy Dharmaputra akhirnya dibebaskan oleh
penculik setelah mendapat tebusan sebesar satu milyar rupiah. Pasca dibebaskan
gadis itu terserang demam tinggi selama lima minggu. Ia juga harus menjalani
terapi dengan psikiater karena depresi berat yang dialaminya.”
Seluruh tubuh Ferdinan gemetar hebat
karena shock. Potongan-potongan puzzle itu kini mulai terhubung. Ia terpaku
membayangkan trauma mengerikan yang mungkin telah dialami Alika.
Ponsel Ferdinan kembali berbunyi, kali
ini telepon dari rumah.
“Tuan, nyonya pingsan Tuan!!!”
***
“Nyonya
Alika tidak hanya diculik tapi juga
diperkosa. Dia positif terjangkit HIV setelah itu. Ayahnya bahkan tidak tahu
hal ini, tapi saya tidak mengira kalau ternyata dia juga merahasiakannya dari
anda.”
Ferdinan keluar dari ruang Dokter Tony
dengan langkah lunglai. Dia berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit lalu
berhenti di depan ruang rawat Alika. Ditatapnya wanita yang sedang tertidur itu
dari pintu. Ia terlihat lemah dan pucat.
“Empat tahun aku hidup bersamamu,
bagaimana mungkin aku bisa tidak memahamimu?” Bisik Ferdinan lirih.
Dalam perjalanan pulang Ferdinan mampir
ke toko buku. Ia membeli banyak buku tentang segala hal yang berkenaan dengan
penyakit AIDS. Dia mempelajari buku-buku itu semalaman. Malam itu seulas senyum
membayang di wajahnya. Ia tak sabar menyambut terbitnya matahari esok pagi.
Bagi Ferdinan pernikahannya dengan Alika
baru saja dimulai. Bukan dalam rumah megah mereka tapi di dalam kamar sempit
itu. Kamar dengan aroma obat yang sangat kuat. Kamar Edelweiss nomor 07.
***
Yogyakarta, 02 Mei 2012
Etik
Widyaningsih
0 komentar:
Posting Komentar