Selasa, 12 Maret 2013

Kumpulan Cerpen

Diposting oleh Unknown di 12.49
 Kamar Edelweiss Nomor 07
Sebuah mobil Honda Jazz berwarna merah berbelok memasuki pelataran rumah besar dan mewah berlantai dua. Seorang laki-laki setengah baya berlari tergopoh-gopoh menutup kembali pintu gerbang kemudian berbalik membuka pintu garasi. Mobil tadi segera menghilang ke dalam garasi. Sebagai gantinya seorang laki-laki gagah usia tiga puluhan keluar sambil menenteng tas kerja. Ia disambut seorang pembantu rumah tangga yang membungkuk hormat lalu membawakan tasnya masuk.
“Alika di mana Minah?”
“Nyonya belum pulang Tuan.” Jawab pembantu itu seperlunya, masih dengan badan membungkuk dan kepala menunduk.
Laki-laki tadi menghela napas kemudian berjalan menuju kamar utama. Kamar itu terletak di lantai dua dengan balkon menghadap jalan setapak yang berkelok-kelok dengan pohon-pohon cemara berjajar rapi di kiri kanannya. Dilihat dari balkon jalan setapak itu lebih mirip ular hijau raksasa yang tak berujung. Sebuah kursi antik dan meja bulat teronggok kesepian di samping kiri pintu. Di sanalah istrinya yang agung biasa membunuh waktu dengan membaca buku saat tidak ada kegiatan di luar.
Laki-laki itu merebahkan badannya di ranjang besar ukuran King Bed yang walaupun terlihat nyaman dan hangat namun terasa sangat dingin baginya. Empat tahun sudah benda itu menjadi satu-satunya pengikat antara ia dan seorang gadis bernama Alika. Menegaskan bahwa mereka benar-benar suami istri. Setidaknya begitulah secara hukum.
Ia pernah sangat mendambakan istrinya yang jelita. Pemilik tubuh semampai, rambut ikal, pinggang ramping, kaki belalang dan lutut seputih mutiara. Semua rekan bisnisnya memandang dengan tatapan penuh rasa iri padanya. Tapi orang-orang itu hanya melihat dari luar saja tanpa pernah tahu bahwa di dalam sebenarnya pernikahan mereka telah berakhir bahkan sejak malam pertama.
“Aku sangat lelah. Bisakah kau ijinkan aku istirahat?” Tanya istrinya dalam nada santun bak seorang pelayan dengan senyum manis tersungging di wajahnya yang secantik ratu.
Diakuinya meski ia menikahi Alika bukan karena cinta namun penolakan secara halus itu tetap saja menyakitkan hatinya. Sebagai suami ia merasa sangat terhina.
Empat tahun lalu Ayah Alika yang sudah rapuh dalam usianya yang semakin senja membutuhkan seseorang untuk menggantikannya menjalankan bisnis hotel yang dirintisnya sejak usia dua puluhan. Lelaki tua itu berjanji mewariskan hotel padanya dengan syarat ia harus menikahi putri semata wayangnya. Mendapat warisan hotel bintang lima dengan bonus seorang wanita jelita yang digilai setiap pemuda, laki-laki normal mana yang sanggup menampik???
Alika yang penurut itu, dengan patuh bersedia menjadi boneka bisnis ayahnya dengan menjalani perkawinan semu bertabur kemewahan. Ia menjalankan perannya dengan baik, menjadi nyonya rumah, menghadiri pesta para pebisnis kelas atas dan aktif di berbagai yayasan sosial. Ia menjadi seorang istri yang hebat kecuali di ranjang. Dalam kamar megah mereka, ia adalah seorang istri yang dingin yang tak pernah mengijinkan suaminya menyentuh tubuh moleknya. Alika selalu membiarkan dirinya tersiksa dalam tuntutan hasrat lelakinya yang tak pernah terpuaskan.
***
“Aku lelah seharian menemani anak-anak panti asuhan belajar dan bermain. Aku ingin tidur cepat malam ini.” Elak Alika malam itu saat suaminya memeluknya dari belakang dengan penuh hasrat.
“Tapi aku menginginkanmu sekarang! Bisakah kau menahan kantukmu hanya untuk malam ini demi aku yang telah menahan hasratku selama empat tahun?” Pertanyaan itu pelan, lembut namun sangat menuntut.
Alika memalingkan muka, menghindari tatapan suaminya yang membuatnya sangat terpojok.
“Ferdinan, aku minta maaf!”
“Kenapa? Setidaknya katakan padaku apa alasannya! Karena aku bukan keturunan konglomerat terhormat seperti dirimu sehingga aku dianggap tidak sepadan. Itukah alasannya?” Ferdinan mulai terpancing emosi.
“Kau tahu aku tak pernah menganggapmu seperti itu.”
“Benarkah begitu? Kau yakin bukan itu alasannya???” Kali ini suara Ferdinan berubah menjadi sinis.
“Ferdinan.....”
“Cukup! Alika, aku benar-benar tidak bisa bersabar lebih lama lagi. Jika kelak aku melakukan sesuatu di luar kendaliku, itu semua adalah karenamu! Kau yang memulai semua ini. Jadi jangan coba-coba menyalahkanku!”
Ferdinan melangkah keluar dengan mata berkilat-kilat karena marah, diikuti suara pintu yang dibanting dengan keras.
Paginya pasangan suami istri itu bertemu di meja makan tanpa saling menyapa. Ferdinan makan dengan cepat-cepat sementara Alika kelihatan tidak berselera. Perempuan itu mengenakan mantel tebal dengan sebuah syal melingkar di lehernya. Wajahnya tampak pucat, berkali-kali dia membersit hidungnya dengan sapu tangan. Ia kelihatan kurang sehat namun tetap tidak mengatakan apa pun. Ferdinan juga enggan bertanya lebih dulu. Keduanya membisu sampai acara makan selesai.
Ferdinan berjalan keluar diikuti Minah yang membawakan tasnya sampai halaman.
“Minah....!” Panggil Ferdinan ragu-ragu.
“Ya, Tuan?”
“Nanti tolong buatkan bubur sum-sum dan wedhang jahe hangat! Kelihatannya nyonya kena flu lagi.” Ferdinan berusaha keras agar suaranya tidak terdengar khawatir.
Minah melongo karena terkejut tapi buru-buru mengangguk sambil tersenyum.
***
Hari itu Ferdinan tidak bisa bekerja dengan tenang karena pikirannya terganggu. Dia tengah membolak-balik laporan dengan gusar ketika Wanda sekretarisnya masuk membawakan secangkir cokelat.
“Kata orang minum cokelat bisa membuat kita menjadi rileks.” Kata Wanda dengan nada dibuat selembut mungkin sambil tersenyum menggoda.
Ferdinan meminum cokelatnya tanpa menanggapi. Diamatinya wanita yang berdiri di sampingnya itu. Parasnya memang tidak terlalu cantik tapi ia memiliki kulit putih yang sangat halus. Posturnya yang tinggi ditunjang dengan bodynya yang padat berisi sebenarnya wanita itu bisa dibilang menarik. Ia juga tahu Wanda tak pernah menyerah untuk mendapatkannya. Tapi tidak ada wanita manapun di dunia ini yang mampu membuatnya menjadi pemuja kecuali istrinya. Alika yang jelita. Alika yang anggun. Alika yang dingin. Alika yang selalu menolaknya dan Alika yang selalu membuatnya tersiksa. Ia frustasi setiap kali ingat semua itu.
“Ada apa?” Tanya Wanda yang mulai merasa jengah terus-terusan dipelototi.
“Tidak ada.” Jawab Ferdinan datar.
Wanda merengut kemudian berjalan hendak pergi tapi Ferdinan menahannya.
“Sore ini kau ada acara?” Tanya Ferdinan yang langsung disambut Wanda dengan senyuman.
***
Minah yang sedang menyapu terperanjat ketika tuannya pulang membawa seorang wanita. Sementara itu di ujung tangga Alika memandang mereka tanpa ekspresi kemudian berbalik masuk kamar. Ferdinan yakin sekilas dia melihat sentakan di wajah istrinya dan dia puas dengan itu.
Ferdinan mengajak Wanda ke taman samping. Lokasi yang akan terlihat jelas dari tempat yang ia pastikan istrinya ada di sana, yaitu balkon kamarnya. Dan benar saja, seperti biasa istrinya sedang bertahta di atas singgasananya menunggu matahari tenggelam.
Wanita jalang itu menggelayut manja dalam pelukan Ferdinan yang sesekali mencium pipinya dengan gemas. Alika menyaksikan itu dari atas. Ia membuang muka lalu memilih menghindar dengan kembali ke kamar. Sepuluh menit kemudian dia menuruni tangga dengan langkah terhuyung-huyung. Menuju garasi, mengambil mobil lalu pergi. Ia tidak kembali hingga pagi tiba.
Ferdinan yang mula-mula bersikap tenang mendadak ikut gelisah. Sepertinya ia terpengaruh oleh Minah yang panik setengah mati. Minah dulunya adalah pembantu di rumah ayahnya Alika. Dia yang mengasuh Alika sejak kecil dan sudah menganggapnya seperti putri sendiri, tak heran dia sangat khawatir.
“Jangan-jangan nyonya diculik lagi!” Cetus Minah disela-sela kepanikannya.
“Apa katamu Minah? Diculik?”
“Iya Tuan. Dulu waktu berumur delapan belas tahun Nyonya Alika pernah diculik.”
Ferdinan melongo mendengar ucapan Minah. Alika pernah diculik???
“Jangan ngawur kamu Minah! Alika tidak mungkin diculik. Pasti ia hanya sedang pergi ke suatu tempat.” Ferdinan masih berusaha berpikir positif. Tiba-tiba saja spekulasi lain muncul dalam benaknya. Mungkinkah Alika meninggalkan rumah karena Wanda?
Hampir saja Ferdinan menelepon polisi ketika tahu-tahu Alika muncul dengan muka sepucat mayat di hari ketiga. Dia berjalan melewati Ferdinan tanpa menjelaskan apapun dan langsung masuk kamar. Ferdinan mengikutinya dari belakang.
“Kau kemana tiga hari ini?” Tanya Ferdinan membuka percakapan.
“Oh, aku mengunjungi ayahku.” Jawab Alika singkat.
Ferdinan terdiam, tidak tahu harus bicara mulai dari mana.
“Mengenai kejadian kemarin. Aku minta maaf, aku hanya,,,,,,” Suara Ferdinan menggantung.
“Nikahilah dia!” Suara Alika pelan, tenang, tanpa emosi.
Ferdinan ternganga, tidak menyangka akan mendengar itu dari mulut istrinya.
“Berhentilah menungguku dan nikahilah dia!”
***
Ferdinan tahu ia tak pernah menginginkan Wanda. Ia melakukan itu hanya untuk memancing Alika. Wanita yang selalu menolaknya itu, Ferdinan ingin memastikan perasaannya. Tapi reaksi Alika benar-benar di luar perkiraan.
Suara dering telepon membuyarkan lamunan Ferdinan. Ia menatap layar ponselnya sambil mengerutkan kening. Dokter Tony???
“Halo. Ada apa Dokter menelepon saya?”
“Saya hanya ingin menanyakan keadaan Nyonya Alika. Apakah dia baik-baik saja?” Suara di seberang terdengar khawatir.
“Alika baik-baik saja.” Ferdinan menjawab sekenanya.
“Saya sudah menyarankan untuk menjalani perawatan di Rumah Sakit tapi Nyonya Alika selalu menolak. Kemarin dia memaksa pulang karena dia bilang sudah merasa baikan. Tapi saya khawatir karena sewaktu-waktu keadaannya bisa saja memburuk.”
“Memangnya Alika sakit apa Dokter???”
Ferdinan semakin mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud dokter yang sudah sepuluh tahun menjadi dokter pribadi di keluarga Alika itu.
“Jadi Pak Ferdinan selama ini tidak tahu kalau istri anda mengidap AIDS?”
Ferdinan mematung di kursinya. Suara Dokter Tony terngiang-ngiang di telinganya. Memaksa otaknya kembali mengingat memori-memori yang selama ini ia abaikan. Alika yang selalu terserang flu hanya karena lupa memakai mantel. Alika yang sering terbangun dengan wajah pucat. Alika yang selalu menolak berhubungan intim dengannya. Inikah penjelasannya????
Mendadak Ferdinan ingat kata-kata Minah. “Dulu waktu berumur delapan belas tahun Nyonya Alika pernah diculik”.
Tangan Ferdinan menari di atas keyboard, mengetik sebuah clue dalam kolom Google Search. Mencari berita penculikan tujuh tahun silam.
Putri tunggal pengusaha kelas atas Willy Dharmaputra akhirnya dibebaskan oleh penculik setelah mendapat tebusan sebesar satu milyar rupiah. Pasca dibebaskan gadis itu terserang demam tinggi selama lima minggu. Ia juga harus menjalani terapi dengan psikiater karena depresi berat yang dialaminya.”
Seluruh tubuh Ferdinan gemetar hebat karena shock. Potongan-potongan puzzle itu kini mulai terhubung. Ia terpaku membayangkan trauma mengerikan yang mungkin telah dialami Alika.
Ponsel Ferdinan kembali berbunyi, kali ini telepon dari rumah.
“Tuan, nyonya pingsan Tuan!!!”
***
Nyonya Alika tidak hanya diculik tapi juga diperkosa. Dia positif terjangkit HIV setelah itu. Ayahnya bahkan tidak tahu hal ini, tapi saya tidak mengira kalau ternyata dia juga merahasiakannya dari anda.”
Ferdinan keluar dari ruang Dokter Tony dengan langkah lunglai. Dia berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit lalu berhenti di depan ruang rawat Alika. Ditatapnya wanita yang sedang tertidur itu dari pintu. Ia terlihat lemah dan pucat.
“Empat tahun aku hidup bersamamu, bagaimana mungkin aku bisa tidak memahamimu?” Bisik Ferdinan lirih.
Dalam perjalanan pulang Ferdinan mampir ke toko buku. Ia membeli banyak buku tentang segala hal yang berkenaan dengan penyakit AIDS. Dia mempelajari buku-buku itu semalaman. Malam itu seulas senyum membayang di wajahnya. Ia tak sabar menyambut terbitnya matahari esok pagi.
Bagi Ferdinan pernikahannya dengan Alika baru saja dimulai. Bukan dalam rumah megah mereka tapi di dalam kamar sempit itu. Kamar dengan aroma obat yang sangat kuat. Kamar Edelweiss nomor 07.
***
Yogyakarta, 02 Mei 2012
Etik Widyaningsih
Email               : rotitawar320@yahoo.com

0 komentar:

Posting Komentar

 

Girl's Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea